Ok lanjut.. Crita sebelumnya.. *kayak sinetron* ehm.. baca sendiri aja deh.. heheheh..
Setelah pikir-pikir sebentar dan berunding sama temen-temen, aku akhirnya memutuskan ikut permainan mereka aja (para penipu). Aku langsung jalan ke ATM Mandiri yang letaknya di seberang kantor. Jalan kaki kurang lebih 2 menit.Tapi kalo ngesot mungkin bisa 30 menitan.. belum lagi nyebrangnya, kalo jalanan lagi rame, bisa lebih lama lagi…
Aku gak percaya kalo ada orang yang kena hipnotis, kemudian secara gak sadar melakukan transfer mengikuti petunjuk penipunya. Aku rasa itu hanya kemampuan penipu berbicara dengan korbannya, bukan karna penipunya ahli hipnotis. Kalopun hipnotis, selama pikiran kita tidak kosong dan waspada, maka kita bisa menolak apa yang diperintahkan penghipnotis. Apalagi kalo kita sadar akan dihipnotis… Beda lagi sama ilmu gendam (?). Lagian aku juga berani karna sudah terbiasa melakukan transfer, beli barang di internet, bayar utang dan bayar supplier tokonya fenny.. heheh..
Langkah-langkah transfer via ATM sama hampir disemua jenis ATM. Ada 3 langkah, dan di langkah terakhir kita masih bisa membatalkan transfer. Langkah-langkahnya adalah:
- Masukkan nomor rekening tujuan. Pilih benar untuk lanjut, atau pilih salah untuk memperbaiki nomor rekening.
- Masukkan nilai transfer. Pilih benar untuk lanjut, atau pilih salah untuk memperbaiki nilai transfer.
- Muncul nomor rekening dan nama pemiliknya untuk verifikasi. Pilih benar untuk melakukan transfer, atau pilih salah untuk mengulang dari awal.
Sampai di ATM sempet kepikiran, mungkin aja bener-bener hipnotis. *whaha.. ternyata ada rasa takut juga* Aku kosongin dulu saldo Mandiri-ku. Isinya 310 ribu, miskin..heheh. Yang bisa di ambil cuman 250 ribu, karna saldo rekening minimal adalah 50 ribu. Jadi sisanya 60 ribu. Takutnya termakan rayuannya, ato secara gak sengaja melakukan blunder, kepencet, dan lain-lain. Jaga-jaga aja.
Setelah mengosongkan rekening, aku telpon Fasli Jalal Gadungan. Kali ini pake HP, gak apa-apa deh, pulsa dibayarin kantor juga..hihihihi..
aku: “Siang pak. Saya Sastrawangsa, yang tadi telpon bapak.“
fjg (Fasli Jalal Gadungan): “Wah, kok cepet ya.“
aku: “ATM ada di areal kampus pak.” *biar dikira kampusnya besar*
fjg: “Ok. Silakan dimasukkan kartu ATMnya. Pilih informasi saldo.“
aku: “Sudah pak.“
fjg: “Bisa disebutkan saldonya, pak. Untuk nanti dijumlahkan dengan dananya, memastikan apakah dananya sudah masuk atau belum.“
aku: *sempet bingung, sebutin saldo asli atau gak ya?* “32 juta pak.” *whahaha…biar dikira kaya. Kalo bilang 60 ribu, nanti bisa-bisa dia langsung tutup telpon, batal lagi blajar speak-speak-indah.*
fjg: “Silakan pilih untuk melanjutkan transaksi, kemudian pilih transaksi lainnya.“
aku: “Sudah pak.“
fjg: “Sekarang pilih menu pencairan dana.” *walah..menu apa pula itu. baru denger skarang*
aku: “Menu itu gak ada pak” *dengan nada bego*
fjg: “Lho kok ga ada ya? Coba dibacakan, menu apa saja yang ada disana.“
aku: “bla..bla..bla..” *lupa* “…, transfer, … dst” *aku bacakan menu-menu yang ada di ATM*
fjg: “Ok, coba pilih transfer.“
aku: “Sudah pak. Muncul isian untuk nomor rekening yang dituju.“
fjg: “Silakan masukkan nomer rekening bapak, kemudian pilih benar.“
aku: *tekan-tekan tombol masukin nomor rekening* “Sudah pak, sekarang isian untuk jumlah transfer.“
fjg: “Karena tidak bisa transfer langsung 20 juta, maksimal 10 juta, coba masukin 10 juta dulu, kemudian pilih benar. Nanti kita dua kali transfer.“
aku: *ngikutin, tapi muncul error di layar.* “Wah, kok katanya nomor rekening yang dimasukkan salah pak.” *dengan nada panik meyakinkan*
fjg: “Lho, kok salah ya? Coba kita ulang pake nomor cek. Masukkan nomor cek-nya saja. 0700005585786“
Aha.. ini dia nomor rekeningnya, ngaku-ngakunya nomor cek. Aku buru-buru catat nomornya, kemudian memasukkan nomor tersebut ke ATM tapi karna kelamaan mencatat, akhirnya kehabisan waktu di ATM. ATM pun berbunyi, dan Fasli Jalal Gadungan mendengarnya.
fjg: “Pilih untuk menambah waktu transaksi pak. Makanya yang cepat masukin nomornya biar tidak kehabisan waktu” *EGP.. dikit lagi*
aku: *masukin ulang nomornya dengan cepat, trus pilih benar* “Sudah pak.“
fjg: “Sekarang kita test dulu, ketikkan angka sembilan sebanyak lima kali, kemudian pilih benar“
Test dengan 99999? Seratus ribu kurang satu. Buat apa ya? Aku masukin angka 5, tapi gak tau brapa kali.. heheh… gak penting juga, biar cepet selesainya. Toh udah tau cara-cara ngomongnya.
aku: “Sudah pak. Muncul nama Nana Mariana. Benar pak?“
fjg: “Oh.. benar. Ibu Nana adalah bendahara Dikti.” *siip..*
aku: “Ok, pak. Terima kasih. Nomor rekening dan nama pemiliknya sudah saya dapatkan… hehehe…” *ketawa sebentar, trus tutup telpon*
Aku catet namanya, trus tekan tombol cancel. Kartu keluar, aku ambil dan kluar dari ATM dengan senang.. hihihi… Sampe di ruangan aku cari-cari info mengenai nomor rekening dan nama tadi. Lumayan dapet info yang banyak dari nomor dan nama ini.
Ternyata di internet, nama Nana Mariana cukup banyak. Maaf buat para Nana Mariana yang jadi korban gangguanku selama aku mencari informasinya kemarin-kemarin… heheh. Untungnya ada nomor rekeningnya yang unik, jadi bisa dapet info Nana Mariana pemilik rekening.
- Nama: Nana Mariana
- No Rek Mandiri: 070005585786
- No KTP: 0953014110680978
- Tgl Lahir: 21 Oktober 1968
- Alamat: Tebet Dalam I no. 14, RT 017 RW 001, Tebet, Tebet Barat, Jakarta
- HP: 081905371272 *uda ga aktif*
- Telpon Rumah: 02133631266 *aku telpon tapi katanya belon terpasang*
- Nama Adiknya: Nanik M, 0217503066 *belon dicoba telpon, ilfil. kayaknya palsu juga*
- dan masih ada beberapa informasi gak penting laennya.
Sayangnya data-data yang didapat dari rekening itu banyak yang palsu. Nomor HP dan telpon rumah gak bisa dihubungi. KTP kemungkinan besar palsu, bisa dibuat dengan mudah. Aku yakin nama Nana Mariana hanya fiktif belaka. Saldo di rekeningnya sedikit, tapi nilai transaksi di rekening itu cukup besar dan aktif. Aku rasa banyak juga yang kena tipu. Begitu ada transfer masuk, beberapa menit kemudian pasti langsung keluar. Ada yang diambil tunai dari ATM, ada yang ditransfer lagi ke rekening lain. Weh.. jadi tahu cara kerja mereka.
Salah satu teman seruangan yang terbiasa berurusan dengan Kopertis bilang, banyak dosen di Kopertis wilayah VIII juga mengalami hal yang sama, kemudian menelpon ke Kopertis (asli) bertanya tentang kepastian beritanya. Pak Baharuddin (asli) minta agar SMS atau telpon semacam itu tidak usah ditanggapi. Weh.. iya kalo tahu itu tipuan. Aku kan awalnya gak tahu, ya ditanggapi lah.. sampai bisa ngobrol akrab dengan Dirjen Dikti Fasli Jalal (gadungan) segala.. hee…
Bagi teman-teman, mohon hati-hati kalau ada orang yang ingin memandu kita menggunakan ATM. Terutama orang-orang yang tidak dikenal. Dia bisa menyesatkan kita hingga tanpa sadar kita melakukan transfer ke rekeningnya. Terutama buat teman-teman yang tidak biasa melakukan transfer melalui ATM. Ok?
the end

wahh seru juga neh… terus part 3-nya mana? lu ga lanjut nelepon si penipu lagi?
—
ga.. males. gue dah tau caranya.. whekekek…
selamat anda lucuuuu……
saldo 32jt? kok kayak ukuran sesuatu…
—
mm… iya ya.. dejavu
Gak nyangka Gde Angsa pinter cerita juga… (waktu SMA kaya’nya gak suka cerita deh)
Bisa jadi novel nih….
Lanjut De…
Penipu kan ga bisa ditipu pak ya
informasinya sangat berharga nih bro… apalagi dilakukan dengan lebih rapi seperti itu.. mudah2an ada pihak kepolisian yang baca blog ini (halah…) dan bisa melakukan investigasi seperti yang dilakukan oleh dosen ini, kekekeke
ceritanya bagus bos… jadi terbayang klo dapet telp gitu…nice info
hahahaha sama kita pak… pertanyaan saya gimana anda bisa dapet nama nana mariana, saldonya, dan keaktifan transaksinya? anda punya ‘orang dalem’ ya di mandiri?
Gde jadi ga bisa sms an lagi dong sama pak Faisal… yah…. sayang sekali.
Tapi dengan data itu ndak bisa dilanjutin ke pak polisi ya De?
termasuk beberapa Nana Mariana tadi.
Ayo Pahlawan Angsa, teruskan perjuanganmu….!!!!
saya juga baru saja dapat pengalaman serupa. tapi tidak saya tanggapi.
nomor HP koordinator kopertis 0818971346
nomor HP Dirjen DIKTI 0818980743
nomor Telepon Dirjen 021-57946052
nomor terakhir ini hebat juga, mereka (komplotan penipu) mencatut nomor fax Departemen Pendidikan Nasional. yang dicatut nomor fax, supaya kalo dikontak, tidak bisa masuk alias tulalit, sehingga calon korban akan telp ke nomor HP. haha